Solois dan Gejala Sosial

Apakah anda atau kita menyadari bahwa akhir-akhir ini kelompok band mengalami kemunduran dalam jagat industri musik pop tanah air? Untuk menjawabnya, mari kita lihat data spotify. Di sana, kita dapat melihat mengenai 15 lagu yang paling banyak didengarkan selama 5 tahun terakhir.

Pada tahun 2020, Diskoria menjadi satu-satunya kelompok band yang bertengger di dalamnya. Tahun 2021, kelompok band yang paling populer adalah Sheila on Seven dan Juicy Luicy. Pada tahun 2022, tidak ada sama sekali lagu dari kelompok band. Tahun 2023, ada dua kelompok band, yakni For Revenge dan Last Child. Pada tahun 2024, For Revenge, Juicy Luicy, dan Last Child.

Dari data itu, tampak sekali betapa kelompok band begitu lesu. Terlebih lagi, jika daftar lagu itu dipersempit menjadi 10 saja. Maka, selama 2020 hingga 2024, tidak ada satupun lagu dari kelompok band yang populer. Aduh!

Dari data itu juga, kita menjadi tahu bahwa selama 2020 hingga 2024, lagu yang paling banyak didengar hampir seluruhnya berasal dari musisi solo (selanjutnya disebut solois). Syahdan, patut dipertanyakan, mengapa banyak musisi yang lebih memilih jalur solois? Mengapa tidak kelompok band?

Solois

Jawaban dari pertanyaan itu sangat sederhana bahwa solois dinilai lebih efektif, tidak ribet. Adanya teknologi membuat segala sesuatu menjadi mudah dikerjakan. Bayangkan saja, untuk membuat musik, seseorang tak perlu lagi datang ke studio rekaman. Musik itu dapat dikerjakan di sembarang tempat.

Belum lagi dengan sifatnya yang individualistik. Seorang solois memegang seluruh kewenangan atas musiknya. Hal ini memungkinkan seorang solois memiliki kebebasan. Solois itu tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk beradu gagasan demi menemukan keidealan musikal macam kelompok band.

Tak hanya itu. Dari sisi karir bermusik, solois boleh dikata menjadi jalur yang lebih aman dibandingkan kelompok band. Lihat saja seberapa banyak kelompok band yang bubar akibat konflik internal. Peterpan, ST 12, ataupun Naif adalah beberapa di antaranya.

Lihat juga kelompok band sekaliber Kerispatih, Cokelat, Drive, ataupun Utopia. Grup ini eksistensinya sempat memudar akibat ganti personil. Alih-alih kembali menebal, kepudaran tersebut ternyata justru menjadi gerbang kebubaran.

Fakta-fakta tersebut menunjukan bahwa karir musik melalui jalur kelompok band lebih rentan dibanding jalur solois. Belum lagi jika menengok peristiwa yang dilakukan oleh Once, Anji, ataupun Sammy Simorangkir. Mereka ke luar dari jalur kelompok band untuk kemudian memilih jalur solois. Terbukti, eksistensi mereka boleh dikata gemilang.

Dalam konteks ini, jalur solois seolah-olah menjelma jalur idaman. Musisi yang menapaki jalur ini akan merasa aman dan nyaman. Terbukti, banyak sekali musisi anyar di jalur ini macam Bernadya, Nadhif Basalamah, Nadin Amizah, ataupun Fanny Soegi. Solois-solois itu barangkali akan terus membanjir ke depannya.

Dialektika

Ini adalah pertanyaan sederhana namun mempunyai konsekuensi yang penting. Apakah membanjirnya solois hanya karena perkara efektif saja? Saya mengira bahwa membanjirnya solois memuat makna lain yang menyangkut aspek sosio-kultural.

Seperti yang saya tuliskan tadi bahwa solois itu mempunyai kewenangan penuh atas musiknya. Maka, dalam proses penciptaan sebuah lagu, tak akan ada adu gagasan, teknikal, maupun artistik laiknya kelompok band. Lagu yang dihasilkan adalah murni idealisme si solois.

Proses penciptaan lagu yang semacam itu sesungguhnya menghilangkan separuh ruang dialektika estetis. Dialektika estetis jalur solois tetaplah ada tetapi subyeknya berbeda. Dialektika estetis itu dilakukan dengan subyek yang statusnya ada di bawah kendalinya.

Berbeda dengan kelompok band. Dialektika estetis itu dilakukan oleh sesama anggota band. Mereka setara. Kesetaraan itu tentu saja membuat dialektika estetis itu lebih cair, luwes, dan hangat.

Jika diteropong dengan lensa yang lebih luas, ada relasi antara dialektika estetis ini dengan dialektika sosial. Secara kultural, dialektika adalah cawan keakraban, kerukunan, kebersamaan, dan bahkan kekuatan. Tanpa ada dialektika, maka nilai-nilai itu tak dapat dicapai. Oleh sebab itu, lahirlah pertanyaan penting lainnya: apakah hilangnya ruang dialektika solois adalah gejala sosial masyarakat kita? Saya kira jawabannya adalah iya.

Mari beranjak agak ilmiah terlebih dahulu. Riskina Tjg, dkk (2024) dalam “Degradasi Identitas Nasional: Munculnya Individualisme di Kalangan Generasi Z” menyoroti bahwa generasi z itu cenderung mementingkan ekspresi diri serta otonomi pribadi. Lebih lanjut, sikapnya yang demikian, akhirnya membuat generasi z abai akan lingkungan sosial yang melingkupinya.

Tak jauh berbeda, Putri, dkk (2023) dalam “Memudarnya Nilai-nilai Gotong-royong pada Era Globalisasi” juga menyatakan bahwa sebagian masyarakat kiwari telah mengalami degradasi solidaritas. Tak sedikit masyarakat yang menilai bahwa berkumpul bersama, menyelesaikan masalah bersama adalah tindakan yang buang-buang waktu. Akibatnya, sikap kebersamaan–gotong royong itu tak lagi dianggap penting.

Dua penelitian tersebut menunjukan bahwa sesungguhnya telah terjadi pergeseran kultur dalam sebagian masyarakat kita. Kultur yang semula berpijak pada kebersamaan, kini mulai bergeser menjadi individualis. Dalam konteks ini, membanjirnya solois dalam lanskap musik industri hari ini agaknya adalah manifestasi dari gejala sosial tersebut. Dari peristiwa ini, saya teringat pernyataan Soekanto dalam bukunya “Sosiologi Suatu Pengantar” (1999). Ia menyatakan bahwa pergeseran suatu budaya atau kultur bukan saja tentang kemajuan melainkan juga tentang kemunduran. Dari pendapat ini, maka kita perlu merenungkan: apakah kita ini sejatinya tengah melangkah maju atau justru sebaliknya?
.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Puisi: Kopi Mawar

Apacapa fulitik matrais

GOR BK Serius Amat, Ini Usulan Nama Alternatif yang Patut Dipertimbangkan

Apacapa

Sekolah dan Makna Sejati Pendidikan

Cerpen Ulfa Maulana

Cerpen: Perempuan Bayang

Cerpen Haikal Faqih

Cerpen: Hijrah

Apacapa Moh. Imron

Penggiat Sastra Pesantren di Situbondo (Bagian 1)

Buku

Buku: Pesona Potensi Pariwisata Kabupaten Jember

ebook

Ebook: Merangkai Kenangan

Mored Moret Taradita Yandira Laksmi

Cerpen Mored: Benang Merah Pengekang

Puisi Rizqi Mahbubi

Puisi: Kota Melankoli

Apacapa fulitik melqy mochammad marhaen

Mengapa Muncul Mas Rio “Patennang”?

Cerpen Haryo Pamungkas

Cerpen: Sebuah Cerita di Hari Pernikahanmu

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Menjemput Cinta dari Tanah Santri ke Tanah Wali

Cerpen Nisa Ayumida

Cerpen : Akibat Dari Salon Kecantikan

Ahmad Zubaidi Puisi

PUISI : Penjahit Sunyi Karya Ahmad Zubaidi

Apacapa Denny Ardiansyah

Menjelajah Selawat Nariyah di Situbondo

Apacapa

Masih Pentingkah Festival Kampung Langai?

Buku Resensi Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Menguak Lapis-Lapis Kebohongan

Apacapa Ipul Lestari

Menggapai Atap Jawa

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Travesti dan Puisi Lainnya Karya Ahmad Radhitya Alam