Kekuatan Musikal: Sedia Aku Sebelum Hujan

Di awal Januari ini, lagu bertajuk “Sedia Aku Sebelum Hujan”(SASH) dari Idgitaf masih nangkring di tangga pertama Spotify. Lagu itu diputar lebih dari 80 juta kali. Prestisius! Akan tetapi, ada pertanyaan yang perlu kita lontarkan: apa keistimewaan lagu tersebut hingga mampu menembus prestasi itu?

Jika ditelaah, tema lagunya begitu-begitu saja: asmara. Progresi nadanya tidak menunjukan kesegaran dan kejutan yang signifikan. Liriknya juga relatif sama dengan lagu pop lainnya. Lantas apa kekhususan lagu ini? Saya mengira, keistimewaan itu terletak pada maknanya.

Kesahajaan

Anda atau kita perlu menyelami penggalan lirik di bait pertama ini: “jadi waktu itu dingin, kuberi kau hangat, walaupun ku juga beku, tapi ku aman saat kau nyaman”. Lirik tersebut memberikan potret kerelaan seorang perempuan terhadap lelakinya. Ia rela tubuhnya kedinginan demi memberi kehangatan tubuh lelakinya.

Ada satu kalimat kunci di sini: “tapi ku aman saat kau nyaman”. Di kalimat itu, si perempuan merasa bahwa kedinginan yang dideranya sesungguhnya adalah pengorbanan untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, si perempuan sangat menampakkan kesahajaannya.

Bayangkan saja, si perempuan itu kedinginan tetapi tidak mencari perhatian, tidak menuntut balasan dari si lelaki. Alih-alih merengek memintanya, si perempuan justru mengkonstruksi kesadaran bahwa yang ia berikan sejatinya kembali ke dirinya sendiri.

Peristiwa dalam lirik itu nampak ironis dengan peristiwa sekitar kita kiwari. Selama ini, kita disuguhi oleh konten yang memotret perempuan beserta sifat dan sikapnya yang dinilai ‘menyebalkan’. Kita mungkin juga tak lupa adanya anekdot bahwa perempuan selalu menuntut balas atas apa yang ia berikan. Pertanyaannya, apakah itu seluruhnya benar?

Dalam konteks ini, Idgitaf menggurat kisah bahwa perempuan tak seperti itu. Perempuan mampu mandiri dalam memberi cintanya. Ia tak menuntut balas atas ‘pengorbanan’ yang ia berikan. Ia justru secara cuma-cuma menggelontorkan cintanya itu.

Secara filosofis, cinta memanglah seperti itu. Cinta hadir memang untuk saling melengkapi dan menguatkan, bukan menuntut balas. Saling balas memang perlu tetapi harus didasari pada kesadaran saling melengkapi dan menguatkan. Bukan saling balas karena rasa untung dan rugi.

Di sini, lagu Idgitaf menjadi terasa dalam. Ia bukan saja lirik cinta-cintaan abal-abal namun kisah cinta perempuan yang bersahaja. Saya kira, di sinilah letak kekuatan musikalnya. Tak heran, banyak yang menggandrungi lagu ini.

Plesetan

Selain makna lagu, ada satu kekuatan musikal lainnya yang kiranya membuat lagu “SASH” ini digandrungi, yakni tajuknya. Apakah anda sadar bahwa tajuk lagi ini adalah plesetan dari sebuah peribahasa? Saya yakin, kebanyakan orang telah mengenal peribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Peribahasa yang menganjurkan untuk melakukan pencegahan, upaya preventif sebelum masalah datang.

Di lagu ini, terma payung diganti dengan aku sehingga menjadi “Sedia Aku Sebelum Hujan”. Dalam konteks ini, penggantian terma aku tak mengubah makna kalimat. “Aku” tetap mengampu fungsi alat, tubuh yang disiapkan untuk mencegah suatu masalah.

Ini nampak sederhana tetapi punya daya pikat sangat kuat. Mengapa? Alasannya sederhana: peribahasa itu telah ada, diajarkan, direkam otak, dan diilhami kebanyakan orang. Pemlesetan yang dilakukan Idgitaf tentu saja, secara otomatis, telah menyematkan atau mematri tajuk lagunya ke setiap insan.

Setelah itu apa? Tentu saja orang-orang akan penasaran. Bayangkan, anda merasa pernah dengar kalimat atau tajuk itu. Secara naluriah, anda tentu saja akan mengecek, memastikan dugaan itu. Di sini, sudah nampak bagaimana plesetan ini bekerja. Perkara didengarkan hingga usai atau tidak itu urusan pendengar. Akan tetapi, kenyataannya, banyak yang mendengarkannya hingga usai. Ini menunjukkan bahwa formula ini bekerja dengan baik. Selamat!

Penulis


Comments

One response to “Kekuatan Musikal: Sedia Aku Sebelum Hujan”

  1. Avatar Yoga C.
    Yoga C.

    Dalam pemaknaan pribadi, sy merasa ada lapisan romansa intim cenderung sensual dalam karya ini. Seperti keterikatan kondisi hujan dan suasana romantis, ditambah dengan kerelaan ataupun penyerahan diri sepenuhnya sang perempuan thd pasangannya. Hmmmmmmmmmmmmm …….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penerbit

Buku: Rumah dalam Mata

Apacapa fulitik matrais

GOR BK Serius Amat, Ini Usulan Nama Alternatif yang Patut Dipertimbangkan

Advertorial

Mengenali Gejala dan Cara Mengatasi Demam Berdarah Sejak Dini

Apacapa

Solois dan Gejala Sosial

Buku Ulas

Sejarah, Tubuh, Dosa dan Diri dalam Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa

Apacapa

Ngaji Syair: Merawat Sastra Keimanan

Apacapa Esai Muhammad Badrul Munir

Listrik Padam, Iduladha, dan Kita yang Bersuka Cita

Irma Muzaiyaroh Puisi

Puisi – Sang Bayu

Apacapa Musik Ulas

Langngo: Ekspresi Keroncong Kekinian yang Membawa Warna Budaya

Madura

Tèngkana Orèng Aparloa

Uncategorized

Keindahan yang Nyata Dengan Teknologi Hexa Chroma Drive

Penerbit

Buku: Negeri Keabadian

game Ulas

Metal Gear Solid Delta: Sebuah Game Klasik Dengan Sentuhan Modern

Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 1)

Anwarfi Miftah Zururi Puisi

Puisi-puisi Miftah Zururi: Kamar Mandi Sekolah

Apacapa Moh. Imron

Lahir: Menjadi Seorang Ayah

Agus Hiplunudin Cerpen

Cerpen : Maha Tipu Maha Guru Durna

Puisi Tjahjaning Afraah Hasan S. A.

Puisi Ruah Alam Waras

Baiq Cynthia Cerpen

Cerpen – Ketika Tertidur Wajahmu Terlihat Menawan

Ahmad Zaidi Alexong Haryo Pamungkas

Alek Melle Buku: Jangan Salahkan Masyarakat Soal Minat Baca Rendah