
Dulu, saya sering mendengar orang-orang berkata bahwa menjadi anak bungsu itu enak. Mulanya saya mempercayainya—itu terjadi saat saya masih berusia 17 tahun ke bawah, saya merasakan betul letak enaknya hingga menganggap omongan mereka adalah sebuah kemujuran.
Tapi, setelah beranjak dewasa, hal itu beralih menjadi omong kosong belaka. Bukan lagi soal mujur, justru berubah menjadi pernyataan yang sia-sia.
Kalian tahu, jika seseorang sudah memasuki umur 20-an itu berarti ia sudah memasuki fase pertempuran. Sebentar bangkit, lalu ringkih lagi. Sebentar jaya, kemudian pusing lagi. Ya, begitu-begitu saja siklusnya. Namanya masih anak muda, kebal dan doyan dengan kegagalan.
Puncaknya adalah ketika saya mulai mengenal: Judi Online. Agak lama saya terjebak pada lingkaran setan itu. Memang setan judi itu. Saya sendiri pun turut merasa menjadi saudara setan, karena sengaja menceburkan diri ke lingkarannya. Ah, bajingan!
Dunia perjudian ini, bisa kita ibaratkan seperti seseorang melempar jala (baca: modal) di sungai yang kecil. Sudah tahu peluang dapat ikannya kecil—tapi masih berharap dapat ikan banyak. Namun, dalam hal lain, jika kita berhasil jackpot, rasa-rasanya semua pada mendekat. Dari yang terbiasa lapar, yang miskin, yang pura-pura miskin, sampai orang yang tidak suka pada kita sekalipun pasti rela menurunkan gengsinya demi mendapat secercah harapan dari kita. Hanya saat kalah saja kita akan kelimpungan mencari mereka—ke mana pun kita cari, persembunyian mereka betul-betul terahasiakan.
Saat berulang kali kalah itulah pikiran saya dicerca banyak pertanyaan. Yang bahkan, saya dituntut mencari jawabannya sendiri. Kalian, tidak usah kaget jika anak bungsu terbiasa menanggung beban hidupnya sendirian. Terlebih jika saudara-saudara kandungnya sudah pada menikah dan punya anak. Apalagi sampai mau mencurahkan segala keruwetan ke orangtua, jangan! Itu hina! Kata seorang kakak saya.
Hari demi hari saya lalui begitu saja saat itu, berharap hari sekarang cepat berlalu dan berubah ke hari esok. Hari esok pun demikian, berharap lekas hilang untuk berubah ke hari esoknya lagi dan esoknya lagi dan lagi. Begitu seterusnya. Dan, keruwetan itu sedikit pudar ketika orang tua saya mulai sakit-sakitan. Tirai untuk hidup yang nyaman akhirnya kembali muncul. Kan, salah satu rezeki yang bisa didapat orang tua adalah memiliki anak yang saleh-salehah, toh.
Dengan terapi ala orang-orang saleh itulah kepulihan berangsur-angsur menunjukkan hasilnya. Saya berhasil melakukan sesuatu yang tak semua saudara saya bisa melakukannya. Seperti konsisten merawat kedua orang tua. Bangkit dan siap sedia bila mereka membutuhkan air atau sedang ingin mengganti popok. Bagi saya, suara mereka adalah suara surga. Jadi sekalipun saya dilanda rasa kantuk berat, saya merasa itu adalah seruan untuk seorang anak agar bisa mencicipi surga. Sedang saudara saya, tak gampang memperoleh itu. Waktu mereka lebih padat, tergerus dengan tanggung jawab terhadap keluarga kecilnya—pada anak dan suami-istrinya.
Contohnya, saat Ibu sakit, saya yang menggantikan perannya belanja ke pasar tiap pagi sampai bisa akrab dengan para pedagang langganan Ibu. Satu kebanggaan. Dan bila bapak yang sakit, saya yang disuruh menggantikan perannya untuk memimpin sebuah pengajian rutin di kampung halaman. Berhasil! Merupakan satu kebanggaan lainnya. Apalagi baru-baru ini, saya diminta untuk menjadi imam di musala. Saya sanggup. Meski bukan 5 waktu. Tapi 3 waktu saja. Saudara saya, belum tentu bisa dan mau menyisihkan waktu untuk melakukan ini semua. Suara surga dari Ibu dan Bapak lebih terdengar di telinga saya dibanding telinga mereka. Sedang suara selembar uang yang beraneka foto pahlawan, telinga merekalah yang lebih peka. Maklum, mereka punya keluarga. Tuhan adil, bukan?
Proses pemulihan dari keruwetan yang diakibatkan judi online itu tidak sebentar. Panjang. Panjang sekali. Ada banyak hal yang telah saya lalui; mengasingkan diri dari keramaian; menyibukkan diri dengan banyak membaca buku; menambah jam tidur bila tak ada lagi kerjaan rumah; dan puncaknya adalah ketika gawai saya kena jambret saat berada di Bali. Ya, itu sama seperti seorang narapidana yang lolos dari lapas Nusa Kambangan. Dan saya pun lolos dan tak mau kembali lagi ke dunia perjudian. Dunia setan! Dua tahun saya baru bisa lolos dari cengkeramannya.
Barulah ketika semua itu berakhir, saya mulai berpikir cara menstabilkan ekonomi. Karena sekalipun sudah ada jaminan surga bila kita ikhlas merawat orang tua, tapi rasanya ada yang kurang bila seorang anak belum bisa membelikan sesuatu di saat mereka butuh.
Walau hati saya pelan-pelan mulai dibumbui dengan laku seperti orang-orang alim kebanyakan, saya tetap membutuhkan uang. Saya juga kepingin menikah. Sebab hidup kurang sempurna apabila tidak memiliki kekasih dalam hidupnya, kata teman saya, suatu waktu.
Segala upaya telah saya coba untuk bisa mengimbangi waktu merawat orang tua dan waktu untuk bekerja. Dengan harapan bisa mengumpulkan sedikit uang untuk keperluan-keperluan di masa mendatang.
Sayangnya, dalam lima bulan terakhir ini, nominal uang yang saya dapatkan belum cukup. Apalagi dua bulan terakhir, Ibu Bapak sering masuk rumah sakit. Saya rasa, karena adanya efisiensi anggaran mungkin ya, atau cara kerja saya yang belum memuaskan? hingga berefek pada penghasilan saya yang sangat jauh dari kata “cukup”. Ah, ya! Bisa jadi.
Tapi yang pasti, dengan pencapaian bisa pulih dari keterburukan, ditambah dengan cara kerja orang alim yang telah menyusup ke dalam diri saya, apapun yang berkaitan dengan ekonomi— baik itu upah dan semacamnya, saya bisa membentengi diri kuat-kuat dengan ketabahan dan kesabaran.
Selagi nyawa masih ada, tak perlu khawatir. Rezeki bisa datang dari arah mana saja. Tidak hanya berpaku pada satu orang, atau satu circle. Banyak jalan menuju kemakmuran.
Terpenting, “mantapkan hati dan pasrahkan semua yang terjadi pada Allah Subhanahuwata’ala.”
Sih, ghallu rah..
Tinggalkan Balasan