Teka Teki dan Puisi Lainnya Karya Andi Fajar Wangsa


Puisi-Puisi Andi Fajar Wangsa

Membuat
Puisi
Hujan turun di hari rabu yang mulai sore.
Menuju petang yang paling menginginkan rumah.
Di sepanjang jalan aku berusaha mencari kata kata.
Akan kubuat puisi tentang kau yang di mana-mana.
Aku pikir.
Ketika hujan semua orang sibuk memeluk kenangan.
Mungkin sambil meminum kopi
atau dengan tatap panjang  ke luar
jendela.
Di sepanjang jalan tentu ada genangan.
Kata kata masih kucari.
Sebagian turun bersama hujan, tapi sebagian lainnya
Sulit kutemukan di senyummu.
Hujan mengajari tentang melupakan.
Caranya memaafkan.
Tiba di rumah, puisi tak kunjung selesai.
Aku ingin minum kopi di depan jendela.
     
Makassar 2018
Menyelesaikan
Kantuk
Hujan tak pernah berhenti dan jam tangan
menunjukkan
masa lalu. Aku lupa membereskan kantuk.
Kau dan gelap datang padaku dan membangun
rumah sedehana dalam ingatanku dan tak ingin pergi
Tentu tak ada bintang di langit-langit kamar. Tapi
aku sedang dan senang
membayangkanmu di sana. Kau baru saja bangun pagi
dan melihat mentari terbit dari jendela.
Atau kau saksikan matahari menemani senja. Kau
tersenyum.
Sunyi meredupkan cahaya lampu.
Tapi sunyi semakin menerangkan dirimu.
     
Makassar 2018
Tiada
Malam selalu tiba menjelang kematian cahaya,
kekasih.
Kau jauh dan akan selalu jauh.
Kau dekat dan akan selamanya dekat.
Kubisikkan namamu sebelum lelapku.
Kuingat kau sedalam ingatku.
Kuingin gelapku penuh dengan tentangmu.
Kutemui aromamu dalam ingatanku.
Kuingin dia memeluk dinginku.
Dan akan kubalas peluk dengan sedalam peluk,
Serupa pelukan sebelum embusan terakhir.
Tapi cahaya telah mati.
Malam menelan kita.
Aku tiada, kau tiada, kita ada.
     
Makassar 2018
Teka
Teki
Bintang tetap menari di matamu. Biarkan semua kata
yang tak kuucapakan padamu membeku.
Jatuh sebagai bintang. Hilang sebelum semua menjadi
harapan.
Atau kata itu menjadi selembar daun
pohon gerseng di depan rumahmu. Kering dan gugur.
Kau sapu setiap pagi atau sore. Kau bakar dan kau
benci asapnya.
     
Makassar 2018
Kau
Memberiku Sayap
Kau selalu bangun lebih awal, membuka jendela
dan menikmati angin pagi. Tentu lebih
segar dari pendingin kamar. Rambutmu kusuk dan aku
menyukainya
juga matamu. Ia bisa sepasang senja yang jingga.
Atau bintang. Bisa seluas langit yang mebuatku
jatuh berkali kali.
Kau bercerita tentang duniamu. Kau bahagia.
Seperti langit yang mencintaimu di seluruh waktu
Kau memilikiku dengan memberiku sayap.
Aku bebas terbang dan hinggap di mana saja.
Dengan sayap, satu-satunya tempatku kembali adalah
kau. 
     
makassar 2018
Biodata Penulis
Andi Fajar Wangsa,
lahir di Wajo 11 November 1995. Puisinya belum pernah dimuat. Twitter: @fajarvangsa

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Iip Supriatna

Keharmonisan yang Menghilang di 2019

fulitik hari wibowo

Gugah Mental Pemuda Situbondo, Mas Rio: Bisnis yang Bagus Itu Dijalankan, Bukan Dipikirkan

Joe Hasan Puisi

Puisi: Kisah dalam Buku dan Puisi Lainnya

Apacapa

Apacapa #3 Literasi Komunitas Situbondo

Ahmad Aqil Al Adha Mored

Cerpen Mored: Kesatria Berbantal Ombak, Berselimut Angin

Apacapa fulitik ricky

Salah Kaprah Gelora Bung Karna

Apacapa matrais

Jangan Gagal Paham Soal Kecamatan Baluran

Apacapa apokpak N. Fata

Memperkuat Kemanusiaan Generasi Digital

Ana Khasanah Buku Ulas

Ulas Buku: Mengabdi Adalah Seni Menjelajahi Diri

Apacapa Denny Ardiansyah

Ode untuk Orde Pak Dadang

Apacapa Hodo Nafisah Misgiarti Situbondo

Hodo dan Perjalanan Bunyi; Sebuah Catatan

Apacapa

5 Alasan Kenapa Kalian Harus Ngefans sama Harli

Esai Muhammad Badrul Munir

Zaidi dan Kisah Seorang Wali

Esai N. Fata

Harlah ke-60: Mimpi-mimpi Semu Kader PMII

Cerpen Haikal Faqih

Cerpen: Hijrah

Apacapa Wilda Zakiyah

Adha yang Berpuisi

Apacapa

Orang Situbondo Keturunan India?

Apacapa hans

Son Heung-min, Sang Kapten Drakor yang Menenggelamkan Manchester United

Puisi Wilda Zakiyah

Puisi: Sapardi, Selamat Jalan Menuju Keabadian

Nurul Fatta Sentilan Fatta

Melihat Pemkab Situbondo Bela Non-ASN yang Dirumahkan