
Jember, 9 Agustus 2026 — Gerak teater di Jember terus bergeliat dengan menghadirkan kekhasan, baik dalam tataran tekstual maupun estetika pertunjukan. Salah satu isu yang semakin banyak mendapat perhatian adalah krisis ekologi. Kerusakan alam yang kian nyata dalam satu dekade terakhir telah membentur kesadaran publik dan mendorong sejumlah kelompok teater menjadikannya sebagai tema utama dalam karya mereka.
Hal ini menjadi bukti sah bahwa kondisi alam hari ini sama bobroknya dengan kondisi sosial-politik. Ditambah lagi dengan modernisasi yang memaksa negara agraris seperti Indonesia untuk bertukar kulit menjadi negara industri. Seolah-olah ukuran kemajuan sebuah bangsa hanya sah jika mereka mampu mendirikan pabrik-pabrik yang menghasilkan uang, sekaligus menghasilkan kerusakan.
Isu tersebut direspons oleh Taruna P. Putra yang melahirkan inisiasi dan konsep ide kreatif dalam suatu seni pertunjukan, yakni “Butah” Ekodramatik 0 KM. Dalam prosesnya, ia dibantu dan diterjemahkan oleh Sutradara Ferick Sahid Persi bersama The Royal Actor Experimental Theatre Indonesia. “Butah hadir sebagai mitos yang menjanjikan harapan hidup bagi umat manusia. Cerita ini memperlihatkan bagaimana ritual dan mitos pernah hadir sebagai ruang solusi komunal. Namun, dalam proses dekonstruksi naskah ini, kami melihat bahwa ritual dan mitos kerap dibelokkan oleh pemegang kekuasaan. Penguasa merasa memiliki hak tunggal untuk merajut narasi demi kepentingan pribadi dan kapital. Atas nama ‘kesejahteraan’, bahkan dengan menunggangi agama dan mitos lokal, alam dieksploitasi secara semena-mena. Fenomena hari ini bahkan memperlihatkan bagaimana ormas keagamaan pun dapat memegang izin konsesi tambang dengan begitu bebas,” pungkas Ferick.
Workshop diskusi naskah Butah tersebut disambut antusias oleh peserta yang memadati ruang diskusi di Omah Winning Cafe, Jalan Semeru, Jember. “Saya menawarkan konsep pertunjukan Butah untuk membangun kesadaran pada diri manusia akan pentingnya menjaga kelangsungan ekologi sebagai tanggung jawab moral dan kemanusiaan. Meskipun pada awalnya terinspirasi seni tradisi Ta’ Buta’an, tetapi saya hanya mengambil spiritnya, bukan mementaskan ulang tradisi tersebut, karena bagi saya tradisi sudah hidup pada diri manusia yang jujur sehingga mampu memantulkan kebaikan di mana pun ia hidup,” ujar Taruna. Workshop tersebut dihadiri pelajar SMAN 3 Jember dan SMAN Pakusari, mahasiswa UNEJ, serta para pakar dan praktisi seni pertunjukan Jember.
“Saya melihat Mas Taruna sebagai aktivis teater yang mbeling, selalu punya perspektif yang unik dengan karakter pertunjukannya yang eksperimental. Strategi penciptaan pada pertunjukan Butah menarik untuk kita diskusikan. Dibutuhkan pembacaan kritis untuk membongkar nilai-nilai sejati pada tradisi dan hal-hal yang mencurigakan, karena beberapa tradisi lisan kita ini sudah ada yang sengaja dibelok-belokkan untuk menutupi kekayaan dan kedalaman intelektual leluhur kita,” ujar Eko Suwargono, Wakil Dekan 3 FIB UNEJ.
Workshop tersebut merupakan rangkaian awal dari pertunjukan Butah yang akan dipentaskan pada tanggal 22 Agustus 2026, pukul 19.00 WIB di Omah Winning Cafe, Jember. “Saya kira ini menarik yang ditawarkan Mas Taruna, dengan memulai talkshow atau workshop untuk mendiskusikan pernaskahan maupun potensi-potensi pertunjukan nantinya. Hanya perlu hati-hati jangan sampai workshop tersebut menjadi semacam panduan atau membatasi pemaknaan oleh penonton ketika menikmati pertunjukan Butah. Saya tidak sabar ingin segera menonton pertunjukan tersebut,” pungkas Dwi Pranoto, Pemenang Kritik Sastra DKJ Jakarta.
Jika limbah menjadi mitos baru peradaban manusia saat ini, lalu apa yang sedang kita sembah? Pertanyaan retoris tersebut terus menggema di ruang-ruang otokritik pribadi masing-masing.
Tinggalkan Balasan