
SESAJI
Dinding belulang. Kau kikir kembali
tokoh-tokoh luput dari tatap.
Kalimat azimat dipaku,
tiang rumah alergi berkat.
Aku persembahkan endapan kopi dan abu;
di meja ini, kau menitipkan sunya.
Seekor gagak mengepak suara.
Atap menyulap sajak gulita di sudut mata.
”Tiga mantra, enam penjuru angin.”
Retak dinding kuhitung;
tiga kenangan, enam pamit.
Malam—pengabdian.
Kisah bernapas dari tumpukan dada yang kau kemul sendiri.
Pejamkan.
Tundukkan.
Sunyi merayap,
menelan bulat-bulat segala adigang-adigung.
Gresik, 13 Juni 2026
DISTOPIA
Warna-warni memangsa. Meranggas.
Sengketa lepas. Arah terbelah. Lesap mata panah.
Menuju timur, spora tumbuh di sisa kota tua.
Menjalar ke barat,
memanjang;
lidah pendusta, pemuja hujat.
Sejarah dijarah
oleh penjelajah serupa penjajah.
Warna-warni rupa kita.
Fragmen-fragmen.
Kanvas koyak diseret angka.
Meluruh sebelum karam,
di palung hitam kelopak mata;
Mimpi—bukan diamini,
ditagih ajal oleh sunyi zaman.
Gresik, 20 Juni 2026
SEPETAK DADA
Duniaku: bait-bait terkunci. Kau tumbuh di balik diksi.
Berkarib sunya—jeda merentang, titik koma membelah, beradu di sempit dada.
Matamu, langit hujan—amarah pada cemara hitam.
Aku—puing puisiku sendiri. Berserak di sisa napas.
Lepas bait, kata terbang di sela bayang pedang.
Senyum kenang, tajam—menebas kemungkinan.
Surup telungkup. Senja menjelma rawa dari perca-perca sisa.
Hitam
Legam
Genggam
Terpendam
Gresik, 21 Juni 2026
Tinggalkan Balasan