Timbangan dan Puisi Lainnya

Timbangan

pagi belum genap
pasar lebih dulu percaya
pada bunyi-bunyinya

logam beradu
plastik ditarik panjang
sandal menyeret sisa tidur

berapa?

kata itu jatuh
sebelum niat selesai

timbangan diletakkan
sedikit condong ke kiri

cabai rawit dijatuhkan
satu, dua
yang ketiga lama di genggaman

“segini.”

mata menimbang
sebelum besi bekerja

di piring lain
utang kemarin ikut naik
pagi yang lekas habis

“kurangi.”

jarum bergerak
melewati tengah
kembali
seperti ragu

“cukup,”
(padahal belum)

“cukup,”
(padahal dipotong)

satu cabai diambil
yang tidak terlalu terlihat

senyum tipis
ditaruh di antara tangan

plastik dibuka
diisi
dipelintir

uang berpindah
dilipat cepat

timbangan masih bergetar

orang berikutnya datang

“berapa—”

kata yang sama
dengan selisih berbeda

jarum berhenti

bukan di tengah

tapi di tempat
yang disepakati
untuk disebut tengah

Lapak Paling Ujung

di ujung pasar
lantai lebih basah
dari yang lain

air asin merayap
ke sela ubin
membawa sisa semalam

ikan disusun
tidak benar-benar rapi
perutnya menganga tipis
seperti belum selesai ditutup dari dalam

mata-mata itu
tidak mengikuti siapa pun

hanya menahan sesuatu
yang sudah selesai

tidak ada yang memanggil harga

seorang perempuan berhenti
satu langkah dari meja

tangannya tidak jadi bergerak

bau laut yang terlambat
menempel di udara

ia melihat
lebih lama dari perlu

seekor disentuh
cepat
lalu dilepas lagi

air menetes
dari ujung ekor
ke kayu yang menghitam

tidak ada tawar-menawar

hanya waktu
yang lewat
tanpa dipanggil

perempuan itu pergi

tanpa membawa apa-apa

kecuali sesuatu
yang ikut menempel
dan tidak bisa dicuci
di rumah

Tawar-Menawar yang Tidak Pernah Selesai

“tiga puluh lima.”

angka diletakkan
di antara dua tangan

“tiga puluh.”

jarak digeser
tanpa banyak kata

cabai dipilih
yang merah ditinggalkan

“tiga puluh dua.”

suara turun
tidak sampai jatuh

plastik terbuka
menunggu keputusan

orang lewat
dengan kantong penuh
tanpa menawar

“tiga puluh satu, terakhir.”

(hening yang tidak ikut dihitung)

kata terakhir
dipakai lagi

yang berubah
bukan hanya angka

tapi batas
yang ikut bergeser

satu cabai masuk
satu keluar

cukup
agar tampak seimbang

“ya sudah.”

uang diserahkan
dibulatkan
tanpa pernah disepakati

plastik dipelintir

selesai

tapi di antara angka
ada yang tertinggal
di meja
yang sama

Penulis

  • Faqod Faaz

    Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan, dengan nama pena Faqod Faaz, adalah mahasiswa Sosiologi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Ia menaruh minat pada penulisan puisi, esai, serta kajian sosial-budaya yang berangkat dari keseharian.

    Karyanya telah terbit di beberapa media daring dan buku antologi. Selain menulis, ia aktif dalam kegiatan literasi dan pemberdayaan masyarakat. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @difaatimah_13.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situbondo

Usahanya Dikhianati Hasil, Pemuda Ini Diopname

Apacapa Erha Pamungkas Haryo Pamungkas Politik

Gus Dur: Demokrasi Harus Diperjuangkan

Uncategorized

Puisi Mored: Lembung Kejora

Berita

Seorang Musisi Melamun: Ide Semakin Mengalun

Opini

Banjir Sumatra 2025: Ketika Alam Mengamuk, Manusia Lebih Dulu Merusak

Firmansyah Evangelia Puisi

Puisi: Madilog Sepi

Cerpen

Cerpen: Bunga-Bunga Berwajah Ibu

Haura Zeeba Karima Mored

Cerpen Mored: Katarsis

Apacapa

Sebuah Cerita Horor Tentang Pernikahan

Apacapa

Burdah Keliling Tengah Laut

Advertorial

Aturan Pemasangan Panel Surya

Apacapa Supriyadi

Takbiran, Bunyi, dan Memori

Fadhil Sekennies Puisi

Puisi: Restu Rindu Ayah-Ibu Karya Fadhil Sekennies

Cerpen Nisa Ayumida

Cerpen : Akibat Dari Salon Kecantikan

Buku Indra Nasution Ulas

Kisah Cinta Soekarno

Buku Resensi Ulas

Resensi: The Murder At Shijinso

Ernawati Film/Series Ulas

Resensi Film: My Idiot Brother

Apacapa

Ketika Jurnalisme Tidak Harus Selalu Bergegas

Cerpen Fahrul Rozi

Cerpen: Nyonya Angel

Buku Thomas Utomo Ulas

Teka-Teki Tenis, Sosok Misterius, dan Cinta Berlarat