Kategori: Puisi
-
Puisi: Harjakasi Karya Wilda Zakiyah
HARJAKASI Letup kembang apiRiuh ucapan di pagi hariHanya bayangan dalam lembah seremoniAku mulai dungu dengan hari kotaku sendiri Menelisik suara setujuan dan sekelumit bantahanHarusnya kotaku terlahir kembaliMerakit gedung, memapah hutan lindung, kemudian aku masuk dalam kandung. Hari ini (bukan) hari jadi kabupaten situbondoSebab kotaku tak lahirMati suri di persimpangan miris dan deru tangisTerbaring dalam pangkuan
-
Puisi : Hujan di Tubuh Seorang Perempuan Karya Dani Alifian
pixabay Puisi Dani Alifian Resah ; Aku butuh kepastian, seperti kebanyakan pria, besar harapan pesan yang kukirimkan beberapa detik sebelum berganti hari agar cepat menemui jawaban. Aku lebih hafal kata terakhir ketimbang derajat suhu malam ini, sikapmu dingin membuat ngilu_ diluar udara sedang tidak bersepakat, hanya sunyi berkelebat sepi yang menemani. Jika risau adalah bahasa
-
Puisi : Belikan Aku Seorang Pelacur Karya B.B. Soegiono
Puisi-Puisi B.B. Soegiono BUNGA 1998 YANG GUGUR KALA ITU banyak nyawa hilang tanpa ada kabar, tidak pula diketahui ke mana? semua menghilang begitu saja tidak tahu gerak-gerik perginya mungkin tendangan peluru dari senapan telah mengusir roh dari tubuh Yani Arif lewat kedua pelipis ataupun dari dadanya pada Sonny pun juga, mungkin gagang tembak telah menghantam setiap
-
PUISI : Penjahit Sunyi Karya Ahmad Zubaidi
pixabay PUISI AHMAD ZUBAIDI Penjahit Sunyi Seorang laki-laki menjahit sunyi yang berlompatan dari cahaya ke cahaya Di sela dentang jam dinding berlipatan dan sebuah puisi yang ditanggalkan sendiri di bilik debu pelan-pelan jarinya menghunuskan alif diantara potongan nun bulan adalah cahaya yang tiba-tiba meretakkan diam luka dan tetes darah tak menjeda jahitannya meski angin menelan
-
Kendari Selepas Hujan dan Puisi Lainnya Karya Andi Fajar Wangsa
Kendari Selepas Hujan Kendari selepas hujan Itu pukul delapan malam Cahaya remang dari kejauhan Lelaki sunyi di basah jalanan Yang jauh masihkah menunggu Mendendang lagu suka Atau menyelam arti lupa Pada pulang kumasih setia Bawa cerita dan esok hari Padamu semua bermula dan kembali – Kendari, 2018 Menyaksi Kau Pada Lautan Malam Telah jauh Aku
-
Puisi : Sungai dan Puisi Lainnya Karya Zen KR. Halil
Add caption Puisi Zen KR. Halil* Jalan-jalan ke Kota Harapan Jalan-jalan ke kota harapan Dimana di pinggir jalan Terpajang gambar kita Sebagai sepasang suami-istri di pelaminan Dan tugu kotanya adalah Tangan kita yang setia erat berpegangan. Jalan-jalan ke kota harapan Di pagi hari, kicau burung ramai Menyuarakan nama kita bergantian Di malam harinya, lampu-lampu Seluruhnya
-
Doa Petani Tembakau dan Puisi Lainnya Karya M. Syamilul Hikam
pixabay Di Lautmu Laut ini tampak indah dipandangi Orang orang boleh saja menyelaminya sesuka hati Seribu pintu tersedia Cuma-cuma Tapi, harus punya kunci paling rahasia Banyak sekali nelayan yang silih berganti datang Untuk memanen ikan ikan Bahkan, ada yang hanya bermain kejar kejaran di tepi pantai Atau, sebatas memandanginya dari kejauhan Selepas itu mereka bergegas
-
Puisi : Orang Bukit Karya Moh. Rofqil Bazikh
pixabay Puisi-Puisi Moh. Rofqil Bazikh Stanza Ada doaku yang berdebu dan berdebum Sekadar membersihkan kemarung yang membusung Tiap gemuruhnya melubangi ketakutan masa silam Kini kudekap erat, masih sangat erat ;Jurus ampuh setelah puisi Di kejauhan kau sunggingkan senyum Sedang aku telah lama larut Meski cemburu kerap bertaut Cukup! Setelah kau adalah jalan pulang Menembus sebentang
-
Puisi : Jendela dan Selaksa Bayang Karya Imam Ar-Ruqi
Puisi-puisi Imam Ar-Ruqi Euforia Sunyi Sempurnalah kesunyian ini, setelah tragedi panjang menyamarkan kegaduhan Segaduh isi dada meneriakkan namamu dalam setiap larik sajak-sajakku Selaksa mawar merekah atas putik yang seharusnya mengalpa tanpa adanya kumbang. Sementara malam membunga dengan purnama ke empat belas Serta iringan gonggongan serigala memarade tanpa adanya undangan Mencipta gelombang suara yang di dalamnya
-
Puisi : Moksa dan Puisi Lainnya Karya Zen Kr
Pada Akhirnya, Engkau Kujumpai Di Sebuah Ruang Bernama Ilusi Pagi ini Hujan kembali bertandang Dingin kurasa dari suatu ingin Lalu kau menari dalam kepalaku Kudekap erat engkau Dengan tangan-tangan angan Agar gigil bukan lagi kawan Bagi rintik hujan di pelataran Dan khayalan tak henti mengirimiku Sebuah kenikmatan hingga candu. 2019 Sia-sia Sudah nyata di hatimu