Cerpen: Asa di Bawah Langit Ibu Kota

Sari duduk termenung di depan bilik kecil di tepi sungai. Dindingnya terbuat dari papan, sementara atap sengnya telah berkarat di beberapa bagian. Di atasnya, langit nyaris tak terlihat, tertutup deretan bangunan yang menjulang tinggi.

“Aku berangkat dulu. Aku tinggal lagi, ya. Gak apa-apa, kan?” ujar Dito sambil merapikan tas lusuh di pundaknya.

“Iya, gak apa-apa,” jawab Sari pelan.

Dito mengangguk, lalu berjalan menyusuri gang sempit yang mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas mencari nafkah. Mereka telah terbiasa hidup berdesakan di area “perumahan” itu. Di sekelilingnya berdiri berbagai hunian mewah dan gedung pencakar langit. Sinar matahari terhalang oleh hutan beton tersebut, tetapi bara semangat para penghuninya tak pernah redup untuk mengarungi kerasnya kehidupan ibu kota. Mulai dari pekerja kantoran hingga buruh harian menghuni “perumahan” itu, melukiskan dinamika kehidupan ibu kota dengan asa yang sama: bertahan dan berharap akan hari esok yang lebih baik.

Di bilik kecil itu, dandang memang jarang benar-benar kosong, tetapi isinya tak pernah lebih dari singkong atau ubi rebus. Tabung aluminium yang sedikit penyok itu seolah tak pernah mengenal aroma masakan lain.

Mereka makan perlahan, seakan ingin membuatnyabertahan lebih lama.

Sari melangkah beberapa jengkal sebelum kembali duduk di ambang pintu. Tangannya meraba lutut, memijatnya perlahan. Sesekali ia menekan pelipis, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi seolah tak terjadi apa-apa.

Udara di dalam bilik terasa pengap. Ia menarik napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa hanya itu penyebab tubuhnya terasa tidak nyaman.

Menjelang sore, Dito kembali ke bilik itu.

“Diam saja, kenapa? Ada yang sakit, gak?” tanya Dito.

“Gak ada. Biasa aja, gak kenapa-kenapa,” jawab Sari sambil menahan nyeri yang sesekali menyergap.

Dito hanya tersenyum.

Hari itu Dito pulang sedikit lebih awal. Lampu redup yang tak kunjung diganti telah menyala di depan bilik.

“Bu, kakak-kakak belum ada yang datang?” tanya Dito sambil duduk di samping ibunya.

“Belum. Katanya masih ngurus anak-anak, belum sempat datang,” jawab Sari. Sejujurnya, ia tak tahu ke mana anak-anaknya pergi karena sudah lama mereka tak memberi kabar.

Dito terdiam sejenak.

“Akhir tahun ini aku mau kerja ke luar negeri,” katanya kemudian.

“Ke mana?”

“Mungkin ke Malaysia.”

Sari tersenyum tipis. Ia menyadari bahwa tak lama lagi ia akan hidup seorang diri tanpa ada yang menemaninya.

“Kerja apa di sana?”

“Pelayan restoran.”

“Memang di sini gak ada lowongan?”

Dito menatap setumpuk berkas di dalam tas yang telah disiapkannya sejak semalam. Ia menutup tas itu, lalu membukanya kembali.

“Kalau aku berangkat, Ibu gimana?” katanya pelan.

Tak lama kemudian, ia terdiam sambil menatap ke luar.

“Gajinya lebih besar di sana.”

Kakak-kakaknya sudah lama tak pernah memberi kabar. Tak ada pesan, tak ada langkah kaki yang singgah di depan bilik itu.

Sari hanya mengaduk sisa rebusan di panci kecil, seolah itu sudah cukup menjadi jawaban.

“Kalau sudah yakin, ambil saja,” katanya pelan tanpa menoleh.

Dito tidak langsung menjawab. Ia berdiri sejenak, lalu duduk kembali. Tangannya menyentuh tas di sampingnya, tetapi tak kunjung membukanya.

Di kota itu, hari-hari Dito diisi dengan pekerjaan serabutan. Apa pun yang bisa dikerjakan selalu ia ambil, dari mengangkut barang, membantu di pasar, atau menjadi buruh di proyek-proyek kecil di pinggir kota.

Asap tipis dari dapur kecil itu hampir tak pernah benar-benar hilang.

Suatu pagi, Dito duduk di ambang pintu. Sesekali ia menatap layar ponselnya, menyaksikan kehidupan orang lain yang terasa begitu jauh dari miliknya.

“Boro-boro beli rumah baru atau mobil baru, buat makan besok aja masih mikir,” gumamnya dalam hati.

Ia kembali menggulir layar.

“Tips keuangan dari orang yang tiap hari naik Alphard.”

Tiba-tiba suara gemuruh memecah kesunyian di “perumahan” itu.

“Perhatian! Kawasan ini akan direlokasi!” teriak seorang pria berseragam melalui pengeras suara.

“Direlokasi ke mana? Memangnya kami salah apa?” teriak seorang warga.

“Di sini akan dibangun kawasan superblok.”

“Kalau kami dipindahkan, mau tinggal di mana?”

“Kami menolak pindah!” seru warga bersahut-sahutan.

Dito tak hanya menjadi penonton. Ia ikut berdiri bersama warga menyampaikan penolakan.

“Dalam waktu satu minggu, jika kawasan ini belum dikosongkan, pembongkaran akan dilakukan. Soal ganti rugi akan diatur oleh pihak developer,” sahut pria berseragam itu. “Apabila tetap bertahan, relokasi akan dilakukan secara paksa.”

Setelah menyampaikan pengumuman tersebut dan demi mencegah kemarahan warga berubah menjadi kericuhan, rombongan pria berseragam itu segera meninggalkan lokasi di tengah sorakan warga.

Dito pulang dengan langkah berat.

“Kenapa tadi ramai-ramai?” tanya Sari.

“Kita harus pindah.”

“Kenapa?”

“Kampung ini mau direlokasi.”

“Ke mana pindahnya? Dapat ganti rugi?”

“Gak tahu. Katanya diurus developer.”

“Belum ada uang buat pindah.”

“Minggu depan mereka datang lagi. Katanya pembongkaran mulai dilakukan.”

“Gak pernah diperhatikan kita.”

Sari terdiam. Tangannya yang semula sibuk perlahan berhenti. Bayang-bayang kepergian Dito ke Malaysia belum juga hilang, kini ditambah ancaman kehilangan tempat tinggal.

Menjelang sore, warga masih memperbincangkan kabar relokasi. Penjual makanan yang hilir mudik pun ikut menjadi saksi kegelisahan yang menyelimuti kampung itu.

“Tolong! Tolong!” teriak Dito dari depan rumah.

“Kenapa? Kenapa?”

Orang-orang yang semula berkumpul langsung berlarian menghampiri.

“Ibu pingsan!” ucap Dito panik.

Warga segera membantu membawa Sari ke rumah sakit.

“Kenapa, Dok?” tanya Dito dengan napas memburu.

“Silakan tunggu di bilik tiga.”

Tak lama kemudian, Dito melihat ibunya hanya terbaring kaku. Tangan dan kaki sebelah kirinya tak lagi dapat digerakkan.

“Kenapa tiba-tiba begini, Bu?”

Sari tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dengan mata terpejam.

Beberapa hari kemudian kondisinya mulai membaik sehingga diperbolehkan pulang. Namun, tagihan rumah sakit belum juga lunas. Dito mengeluarkan tabungannya sedikit demi sedikit untuk menutup biaya perawatan.

Sejak saat itu Sari lebih banyak terbaring. Ia hanya sesekali menggerakkan tangan kanannya yang masih kuat. Aktivitas sehari-hari kini hampir sepenuhnya bergantung pada Dito.

Suatu siang, ketika sedang membersihkan rumah, Dito tanpa sengaja menjatuhkan setumpuk kertas yang telah menguning. Ia membungkuk untuk memungut dan merapikannya kembali, tetapi langkahnya terhenti saat melihat angka 200 tertulis di samping sebuah tanggal.

“Bu, maksudnya angka 200 ini apa?”

“Bukan apa-apa… taruh aja,” jawab Sari lemah dengan bicara yang mulai terbata.

“Apa sih maksudnya? Kenapa disembunyiin?”

“Udah… taruh aja.”

“Itu angka 200 dari mana?”

“Dari tukang ukur.”

“Tukang ukur apa?”

“Tensi… katanya.”

Dito menoleh ke luar rumah. Kebetulan, orang yang sering berkeliling memeriksa tekanan darah warga sedang melintas di sekitar “perumahan” itu.

“Mang… Mang!” panggil Dito.

“Iya, Dek?”

“Abang pernah ngukur tensi ibu saya, kan?”

“Iya.”

“Angka 200 itu maksudnya apa?”

“Itu tekanan darahnya.”

“Kenapa kalau 200?”

“Itu sudah tinggi sekali, Dek.”

Seketika dada Dito terasa sesak. Ada sesuatu yang selama ini disembunyikan ibunya.

“Kok bisa?”

“Mungkin memang ada penyakitnya, Dek.”

Lelaki itu sendiri tak begitu memahami dunia medis. Ia hanya tahu bahwa angka normal jauh di bawah hasil pengukuran yang pernah ia catat.

Dito kembali masuk ke dalam rumah.

“Bu… kenapa Ibu gak pernah bilang?”

“Gak usah dipusingin.”

Dito terdiam. Tangannya masih menggenggam kertas itu lebih erat dari sebelumnya.

Ia teringat pernah melihat botol obat di sudut lemari. Namun, sudah lama botol itu tak pernah disentuh Sari lagi.

***
Sepekan kemudian, petugas berseragam kembali datang.

“Ini surat dari developer dan kelurahan. Seluruh warga akan direlokasi ke rumah susun.”

“Jauh!” teriak beberapa warga serempak.

“Bagi yang menolak direlokasi, bangunan akan tetap dibongkar.”

“Ini tanah kami!”

“Tunjukkan sertifikatnya,” balas petugas dengan tegas. “Pekan depan pembongkaran akan dilakukan. Silakan mulai berkemas.”

Mendengar pengumuman itu, Dito segera melipat pakaian dan memasukkannya satu per satu ke dalam tas pindahan.

Di sudut bilik, tas lusuh yang dahulu disiapkannya untuk berangkat ke Malaysia masih tergeletak.

“Aku gak jadi ke Malaysia. Aku di sini aja nemenin Ibu.”

Sari menoleh pelan.

“Kalau kamu sudah yakin, pergi aja ke sana. Gak apa-apa.”

Dito menggeleng.

“Nanti juga masih ada kesempatan lain.”

Hari relokasi pun tiba.

Dito mengangkut barang-barang mereka yang tak seberapa ke rumah susun. Sementara itu, Sari didorong dengan kursi roda, perlahan menaiki lantai tiga.

Rumah susun itu masih baru. Dinding-dindingnya bersih. Udaranya lebih sejuk. Namun, suara-suara yang mengisinya terasa asing. Tak ada lagi riuh yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan mereka di bantaran sungai.

Dito berdiri di balkon. Di tangannya, selembar kertas lusuh bergetar pelan tertiup angin. Angka 200 masih tampak jelas, tak berubah sejak pertama kali dituliskan. Ia memandang angka itu beberapa saat, lalu melipat kertas tersebut dengan hati-hati dan menyelipkannya ke dalam saku.

Dari balkon, matanya menelusuri jalan yang membentang jauh, seolah menuju tempat yang belum pernah ia datangi.

Penulis

  • Kelvin Pratama adalah lulusan Magister Manajemen Universitas Trisakti yang memiliki minat pada dunia sastra. Selain gemar membaca, ia juga aktif menulis cerpen sebagai ruang eksplorasi dan ungkapan kecintaannya terhadap sastra. Ia dapat dihubungi melalui Instagram @kelpratama.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Radhitya Alam Puisi

Ludruk dan Puisi Lainnya Karya Ahmad Radhitya Alam

Apacapa Imam Sofyan

Pengghir Sereng: Wisata Rumah Pintar Pemilu di Situbondo

Erliyana Muhsi Puisi

Puisi: Telanjang Pudar Karya Erliyana Muhsi

Cerpen

Damar Aksara; Puing-Puing Asmara

Ahmad Zainul Khofi Apacapa

Mengenal Situbondo dari Puisi

Apacapa Nuriel Haramain

Hari Santri: Ajang Realisasi Jati Diri

Diego Alpadani Puisi

Puisi: Rabu Malam

Apacapa Hasby Ilman Hafid

3 Hal Unik yang Pernah Dilakukan Oleh Santri

Buku Toni Al-Munawwar Ulas

Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut

Apacapa

Mara Marda Institute Gandeng Bank Indonesia Gelar Pelatihan Inkubator Industri Kreatif

Apacapa

Keselarasan Manusia dan Alam pada Masyarakat Jawa: Sebuah Tradisi dalam Pembangunan rumah

Apacapa Elsa Wilda

Islam Aboge Onje Purbalingga Menurut Perspektif Sosiologi Agama Dasar

Musik Ulas

Kekuatan Musikal: Sedia Aku Sebelum Hujan

Apacapa Rahman Kamal

Cerpen: Kunang-kunang di Atas Perahu

Imam Suwandi Puisi

Puisi – Subuh yang Terjarah

Penerbit

Buku: Rumah dalam Mata

Apacapa Ardhi Ridwansyah

Bedah QLC Dalam Diri Seorang Pengangguran

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Posisi Komunitas Muda Kreatif Situbondo dalam Revolusi Industri 4.0

Apacapa Moh. Imron

Madubaik: Manis Kadang Bikin Menangis

Cerpen

Cerpen: Harimau dan Gadis Kecil