
Segala hal tentang luka, kadang ada sebagian tersembunyi di balik senyum, menetap dalam diam, dan tumbuh menjadi lelah yang tak pernah benar-benar mampu diurai oleh cerita. Ada pula retakan yang datang perlahan, mengikis keyakinan, merenggut rasa percaya diri, hingga seseorang merasa asing terhadap dirinya sendiri.
Sisa Cahaya di Tubuh yang Retak adalah perjalanan menyusuri ruang-ruang sunyi dalam diri. Melalui puisi-puisi yang jujur dan intim, Syahrotun Navisyah merangkai kisah tentang luka, kehilangan, rasa bersalah, penghakiman, dan perjuangan seorang perempuan untuk menemukan kembali dirinya di tengah kehidupan yang kerap menuntutnya selalu kuat.
Di antara keinginan untuk menyerah dan keberanian untuk bertahan, ada proses panjang untuk belajar mengakui luka, mendengarkan diri sendiri, dan menerima bahwa tidak semua yang retak harus kembali utuh agar tetap berharga.
Buku ini sebuah upaya untuk berani untuk tetap tinggal bersama diri sendiri, bahkan ketika hidup belum sepenuhnya ramah. Sebab, bertahan tidak selalu berarti menjadi kuat, dan menerima diri tidak harus menunggu sampai semua luka memudar.
Barangkali, kita tidak selalu membutuhkan cahaya yang terang untuk menemukan jalan pulang. Hanya secercah cahaya yang tersisa sudah cukup untuk menuntun kita melewati gelap dan meyakinkan bahwa hidup masih layak dijalani.
Dalam tubuh yang retak, cahaya masih bisa tumbuh.
Sisa Cahaya di Tubuh yang Retak
Penulis: Syahrotun Navisyah, 2026
Cetakan Pertama, Oktober 2026
viii +160 halaman, 14 × 20cm
QRCBN 62-2715-4523-816Kontak Pemesanan: 0895-3889-06291
Tinggalkan Balasan