
SITUBONDO — Seorang pemuda, Sasan (26), nama samaran, terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah usahanya selama setahun lebih dalam memperjuangkan pujaan hati berakhir tanpa hasil. Peristiwa memilukan sekaligus menguras kuota tersebut terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, setelah sang perempuan diketahui memilih lelaki lain yang diduga lebih unggul dalam hal keberuntungan, kekayaan, timing, atau lebih cepat menyatakan cinta.
Sasan diketahui telah mengorbankan banyak hal demi perempuan tersebut. Mulai dari waktu, tenaga, uang, hingga kuota internet yang seharusnya digunakan untuk mencari informasi penting di internet. Namun, seluruh pengorbanan itu ternyata tidak cukup untuk membuat sang perempuan berpaling.
“Dia sudah berusaha maksimal sejak pertama berkenalan dengan perempuan itu di Pantai Pasir Putih Situbondo,” ujar salah seorang teman korban saat ditemui.
“Jika cinta bersemi di Pasir Putih, cintanya dianggap suci,” kata Sasan setelah bercerita kepada kami. “Pendekatannya pun berlanjut, sering antar-jemput, membalas chat dalam hitungan detik, memberikan perhatian, bahkan rela begadang hanya untuk mendengarkan curhat yang pada akhirnya ternyata tentang lelaki lain. Sejak saat itu, dia jarang berkumpul bersama kami.”
Kondisi Sasan mulai memburuk setelah mengetahui bahwa perempuan yang selama ini diperjuangkannya justru memilih orang lain. Ia sempat terlihat termenung selama beberapa jam sambil menatap layar ponsel yang tidak kunjung berbunyi.
Pihak keluarga yang khawatir kemudian membawa Sasan ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan program Berantas dan difasilitasi Ambulance Rakyat. Sesampainya di rumah sakit, Sasan langsung diperiksa menggunakan sejumlah alat medis canggih. Pemeriksaan berlangsung cukup lama karena dokter mengaku kesulitan menemukan penyebab penyakit tersebut.
Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dokter akhirnya mengeluarkan hasil diagnosis yang cukup mengejutkan.
Sasan dinyatakan mengalami “Kesepian Stadium Akhir”, sebuah kondisi ketika seseorang masih memiliki banyak teman, tetapi tidak memiliki seseorang yang ingin ditunggunya membalas pesan.
“Secara fisik sebenarnya tidak ada masalah serius,” kata dokter yang menangani Sasan. “Tekanan darah normal, suhu tubuh normal, detak jantung juga normal. Tetapi ketika nama perempuan itu disebut, detak jantungnya mendadak meningkat. Awalnya kami menduga penyakit jantung, tetapi ternyata penyakit berharap.”
Menurut dokter, kondisi tersebut cukup berbahaya apabila tidak segera ditangani.
“Kalau dibiarkan, pasien bisa mengalami komplikasi berupa terlalu sering membuka WhatsApp, mengecek status terakhir dilihat, membaca ulang percakapan lama, dan yang paling parah adalah melihat foto profilnya berkali-kali,” jelasnya.
Dokter menyarankan Sasan untuk menjalani terapi berupa pengurangan aktivitas stalking, penghentian sementara lagu-lagu galau, serta menghindari tempat-tempat yang memiliki kenangan bersama mantan harapan.
Namun, pengobatan tersebut diperkirakan tidak akan mudah.
“Penyakit seperti ini biasanya membutuhkan waktu. Obat bisa kami berikan, tetapi kalau pasien masih berharap dia kembali, proses penyembuhannya akan jauh lebih lama,” ujar dokter.
Di tengah kabar mengenai kondisi Sasan, perempuan yang menjadi pusat persoalan akhirnya memberikan keterangan. Ia meminta agar kejadian tersebut tidak dilihat hanya dari satu sisi.
“Saya juga tidak tahu akan seperti ini,” katanya saat ditemui wartawan. “Saya tidak pernah berniat menyakiti dia. Saya menghargai semua usaha yang sudah dia lakukan.”
Menurutnya, perhatian dan perjuangan Sasan memang tidak pernah ia abaikan. Namun, menerima perhatian seseorang tidak serta-merta membuat seseorang wajib membalasnya dengan perasaan yang sama.
“Saya menghargai dia sebagai orang baik. Tapi saya juga punya hak untuk memilih siapa yang ingin menjadi pasangan saya,” ujarnya.
Ia mengaku sempat merasa bersalah setelah mengetahui Sasan harus mendapatkan perawatan.
“Saya benar-benar tidak menyangka sampai harus masuk rumah sakit. Kalau saya tahu akibatnya seperti ini, mungkin saya akan menyuruh dia jangan terlalu berharap sejak awal.”
Ketika ditanya apakah dirinya merasa telah memberikan harapan kepada Sasan, perempuan tersebut hanya terdiam beberapa saat.
“Saya rasa mungkin ada beberapa hal yang dia artikan berbeda. Saya membalas chat bukan berarti menerima lamaran. Saya menerima tumpangan bukan berarti menerima cintanya. Dan saya menerima traktiran bukan berarti menerima hubungan,” katanya.
Ia kemudian meminta masyarakat agar tidak menyalahkan siapa pun dalam kejadian tersebut.
“Dia tidak salah karena mencintai. Saya juga tidak salah karena memilih. Mungkin memang perasaannya saja yang tidak bertemu di tempat yang sama.”
Sementara itu, teman dekat Sasan mengaku sudah berusaha menyadarkan korban sejak awal. Namun, nasihat yang diberikan selalu kalah oleh perasaan.
“Cinta ini buta, itu sebabnya dia tidak melihat realita,” kata temannya.
Menurut sang teman, Sasan sebenarnya sudah mengetahui bahwa hubungan tersebut tidak memiliki masa depan. Namun, ia tetap bertahan karena percaya bahwa perjuangan pada akhirnya akan membuahkan hasil.
“Ternyata dia lupa satu hal,” katanya. “Usaha memang tidak pernah mengkhianati hasil. Tapi hasilnya belum tentu sesuai dengan yang kita harapkan.”
Hingga cerita fiktif ini diturunkan, Sasan masih menjalani perawatan. Kondisinya dilaporkan stabil, meskipun sesekali terlihat membuka ponsel dan berharap ada satu nama muncul di layar.Pihak rumah sakit mengimbau masyarakat yang mengalami gejala serupa agar segera mencari pertolongan []
Tinggalkan Balasan